Jumat, 21 Januari 2011

one poem

jika aku benar, maka tak berlebihan jika kukatakan padamu bahwa senyum itu tulus.
Jika ini meyakinkan, aku tak ragu lagi untuk berbagi sedikit tawa dan tangis padamu.
Karena aku. Tertuju padamu. Sekarang.

Saat ini,
Cuma ada satu variabel yang menemani koefisien ‘aku’.
Kamu.
Kamu dengan kesederhanaan kamu.
Kamu dengan apa adanya kamu.
Kamu dengan senyuman kamu.
Juga sedikit luka yang kau torehkan padaku. Luka yang kutorehkan padamu juga.
Ah, tak mengapa. Itu namanya konsekuensi, bukan?

Aku takkan menuntut banyak padamu,
Karena seperti yang dikatakan orang bijak,
Mencintai untuk dicintai [seperti aku mencintaimu] adalah hal kuno yang tragis:: hanya akan membuat hatiku tercabik. Aku akan mengenalmu dengan sewajarnya,
Karena katamu dulu, seerat-eratnya kita pasti akan berpisah. Entah kapan, dimana, dan bagaimana.
Jujur, aku tak begitu menginginkan kamu seperti mereka yang mengaku peduli pada perempuan, sedangkan mereka membebekkannya pada semua orang. Dan kamulah kamu :)
Semua yang kau datangkan dari langit jingga sudah cukup, lebih dari cukup.

Aku suka caramu menata bingkai hatiku, tak peduli bahwa ada bagian yang retak di sudut hatiku yang lain.
Karena kamu bukan pengungkit masa lalu.
Yeah! Keindahan itu juga kutunjukkan pada beberapa orang yang masih sedikit pantas dianggap berarti untukku. Tak peduli apakah aku menabrak rambu belok dengan memutar haluan, mendapat plakat pemakan ladang orang, aku terus melangkah dalam nadi hidupku, jalanku sendiri.
Karena aku dan beberapa dari mereka sejatinya bersatu titik akhir. Hanya saja kami sedikit berbeda.
Kamu,
Terima kasih banyak untuk adanya kamu selama ini…:)


0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More